Cumbu Pada Cemara

Published by:

Aku sampai terbelalak. Terdengar ketukan pintu dari luar yang hampir membuatku makin terbelalak. Kini, Ibu dan adik disandera oleh kawanan rentenir. Bapak. Sudah 14 hari, Ia tak pernah pulang ke rumah kami. Entah apa yang dilakukan Bapak di rumah pelacur itu. Ya. Pelacur yang megakungaku punya jabang bayi dari Bapak. Padahal telah banyak penispenis yang telah begaul dengannya, bukan hanya penis si Bapak.

Ibu menjerit kesakitan. Aku tak paham dengan maksud Ibu yang selalu menangisi Bapak tiap tengah malam. Padahal Bapak tak jelas juntrungannya. Lusa, kami bertemu di persimpangan danau. Kami masih bercanda kala itu. Kami masih seperti keluarga, waktu itu. Dengan birbir yang memanjakannya, Bapak terlelap oleh dekapan hangat si Pelacur. Klise memang kehidupanku. Anak yang jauh dari orangtua bernama Bapak dan kemudian hanya duduk bego melihat Ibu dan adikku dipecut bagai binatang yang tak nurut oleh majikan. Klise. Sungguh klise. Aku tahu memang tak jarang yang mengalami serupa denganku. Dan memang pula bukan hanya aku saja yang mengalami hal itu.

Begini ceritanya…… Continue reading

Perempuan Yang Duduk Di Atas Kursi….

Published by:

               Diteguknya kopi hitam. Kami mulai perbincangan tentang kakak kami yang ingin menikah di Australia bersama calon suami yang ingin serta-merta membawanya ke negeri kangguru itu. Pelik memang. Apalagi Ibu yang sudah wanti-wanti agar kakak tidak pindah agama.

               Di lain sisi, ketika tengah malam sedang merasuk kuduk.. Ku dengar ada yang mendesah dari bilik kayu. Desahannya semakin lama semakin kuat, sama seperti malam yang semakin larut semakin ngilu. Ada rasa ingin terus melaju, ada rasa bersalah walaupun sedikit dan ada pula rasa ingin terus mengulik sakit tetapi syahdu untuk melarung malam. Sampai subuh, ternyata semua bergegas untuk diri mereka masing-masing. Secepat itu, mereka rupanya sudah agak melupakan kejadian semalam yang mereka alami.

             Pesan singkat akhirnya tiba juga kepadaku. Kemudian bergegas untuk mengetik sesuatu yang aku ingat tadi malam. Bahkan sampai secermat itu ku perhatikan penjual Es Cendol yang memanipulasi uang kembalian terhadap si Pembeli. Tragis memang. Belum lagi anak-anak yang dipecut ibunya sendiri. Kemarin, hari ini, esok, lusa, minggu depan atau kapanpun yang akan datang kini rupanya waktu telah menjamah lara. Seenak Ia. Lalu nampak matari yang masih dibilik senja mencaci jemuran ibu-ibu di setiap gang. Bang Tagor, orang yang tak pernah mandi seumur hidupnya ternyata sedang jatuh cinta pada pelayan warteg ujung jalan. Ohya, omong-omong masalah pesan singkat gila itu aku sampai terpingkal-pingkal tertawa serasa mau mampus. Hus! Ini Cuma aku saja yang tahu, lekas ku hapus pesan singkat itu yang ku terima delapan belas menit yang lalu.

               Siang yang terik….. Continue reading

Ayah

Published by:

kepada Ayah;

Ketika jiwa yang sudah lekang

Kekarnya tak lagi dulu

Maafkan segala rengekku, Ayah

Kini aku tlah bersama lelaki pilihanmu, lelaki nomor dua terhebat setelahmu

Ayah…

Continue reading

Mengatakan Aku, mengakukan kata

Published by:

Kau menarik-narik bajuku yang kebesaran. Agak menyebalkan. Kau ternyata takromantis ketika hadir sebuah pertengkaran, bukan lagi memegang tangan. Sedang dua orang sepasang kekasih, terdiam memandangi kau yang mulai mengejarku. Sementara aku selalu mempercepat langkahku sesekali melihat bayangan dari lampu pinggir jalan, takut-takut kalau kau takmengejarku. Benar saja…………

“Aku cuma mau penjelasan. Siapa dia. Kenapa harus ada cinta”

Continue reading